Revolusi Mental: tak
usah muluk-muluk
Tulisan ini
adalah hasil dari chating-an saya
dengan salah satu ustad pengampu kajian Hermeneutik di Ma’had ali Pondok
Pesantren Wahid Hasyim dan Dosen Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga, bapak
Fahruddin Faiz namanya. Saya pada saat itu menayakan tentang Revolusi Mental. Dan
dari pada hasil cathing-an membusuk tak terbaca oleh hayalak, maka dari itu saya
publikasikan, supaya siapa tahu ada yang membaca dan mendapat hikmah.
Seperti ini
setelah saya susun hasil cahting-an itu:
*
Ide
dasar dari gagasan Bapak Jokowi sebelum jadi presiden adalah Revolusi
Mental. Mungkin pemahaman Revolusi Mental saya dengan bapak Jokowi di satu sisi
ada yang berbeda tapi pada intinya kurang lebih sama yaitu
tentang perbaikan mental bangsa Indonesia, karena memang perubahan paling asasi
dari kehidupan manusia adalah mentalitasnya dalam artian bagaiman cara mengelola:
akal, emosi dan spiritualitas dalam hidup.
Mentalitas
adalah prototype dari modus kehidupan manusia. Hari ini
menurut saya kehidupan manusia di Indonesia cenderung berpikir pragmatis: tidak
sabar menunggu proses, hedonis: mencari nyamannya sendiri, truth-claim: merasa dirinya yang paling benar, dan narsis: setiap
orang merasa dirinya pintar, baik dan penting, maka hasilnya adalah masyarakat
yang selalu menuntut, tidak mau diajak tirakat
(laku prihatin, menahan hawa nafsu), mencari keuntungan sendiri, dan menganggap
“yang lain” adalah ancaman bagi dirinya. Itulah contoh mental yang harus
diperbaiki.
Dan
mengingat urgensi perubahan tersebut saat ini, maka perubahan itu harus segera
dilakukan. Itulah revolusi, perubahan yang cepat dan segera. Tidak usah
muluk-muluk. Mari memulai dari diri sendiri, merambah ke keluarga, teman,
masyarakat, kota, dan negara.

EmoticonEmoticon