Hidup sekali, Bermaknalah!


Hidup sekali, bermaknalah.
Punya waktu banyak tapi tidak digunakan sebagaimana yang seharusnya. Punya kesempatan perang tapi tidak digunakan untuk berperang. Berfoya-foya kesempatan.

            Coba bayangkan, seandainya Anda diberi waktu–taruhlah umur umum manusia 63 tahun, mengacu pada umur Nabi Muhammad Saw. Apa yang akan Anda lakukan apabila diberi umur segitu? Atau umpanya kita ketika lahir di lengan terpasang detik yang menunjukkan sisa waktu hidup hidup 25 tahun, seperti film In Time yang dibintangi Justin Timberlake. Apa yang akan kamu lakukan?
            Berapa umur Anda sekarang, 25 tahun kah? Kalau benar umur Anda sekarang 25 tahun berarti sisa waktu hidup Anda tinggal 38 tahun lagi, itu kalau masa hidup Anda hanya sampai 63 tahun. Dalam 38 tahun kedepan apa yang akan Anda lakukan? Berfoya-foyakah? Mengerjakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya kah? Atau ingin menjadi bagian dari sejarah umat, dicatat dalam buku orang-orang yang paling berpengaruh di dunia setelah Nabi? Hanya Anda yang bisa menjawab.
            Lahir, hidup, lalu mati. Balita, anak-anak, remaja, pemuda, lalu orang tua. Itulah siklus kehidupan, orang pasti menjalani seperti itu. Kita diberi akal, waktu, dan energi yang sama, tidak kurang juga tidak lebih dari Allah (kecuali orang-orang khusus). Idealnya dengan pemberian itu pemanfaatannya pun semua sama, tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan idealnya orang hidup harus bermakna, bermafaat bagi orang tua, masyarakat, bangsa dan agama. Tapi pada kenyataannya bagaimana?
            Ada yang mengidealkan jadi intelek, sastrawan, sejarawan, pengusaha dan semacamnya. Tapi banyak orang tidak menjalankan dan bertindak seperti apa yang meraka idealkan. Banyak waktu terbuang percuma, sehingga apa yang diidealkan tidak tercapai.
            Mungkin bagi mereka yang mengidealkan seperti itu sebetulnya sudah ada niat, tapi dengan berbagai macam alasan dan segala macam pembenaran, akhirnya tidak tercapai.
            Berfoya-foya kesempatan, sekali lagi berfoya-foya kesempatan–setidanya menurutku–adalah hal yang mubazir. Waktu yang diberikan oleh Allah tidak dipakai untuk mendekatakan kepada Allah.
            Berkaca dari hal di atas, mari kita serius memikirkan hidup, hidup ini dari siapa, untuk siapa, dan hidup mau kemana. Mengapa kita harus serius memikirkan hidup? karena waktu kita terbatas. Hidup sekali, bermaknalah.

Inspirasi dari ngaji Asbah wa nadhoir, w/ Muhammad Toha. Dan ngaji filsafat w/ Fahruddin Faiz.
Gaten, 05 November 2014 pukul 05:30
Previous
Next Post »