Hidup
sekali, bermaknalah.
Punya
waktu banyak tapi tidak digunakan sebagaimana yang seharusnya. Punya kesempatan
perang tapi tidak digunakan untuk berperang. Berfoya-foya kesempatan.
Coba
bayangkan, seandainya Anda diberi waktu–taruhlah umur umum manusia 63 tahun,
mengacu pada umur Nabi Muhammad Saw. Apa yang akan Anda lakukan apabila diberi
umur segitu? Atau umpanya kita ketika lahir di lengan terpasang
detik yang menunjukkan sisa waktu hidup hidup 25 tahun, seperti film In Time yang dibintangi Justin Timberlake. Apa yang akan kamu lakukan?
Berapa
umur Anda
sekarang, 25 tahun kah? Kalau
benar umur
Anda sekarang 25 tahun berarti sisa
waktu hidup Anda tinggal 38 tahun lagi, itu
kalau masa hidup Anda hanya sampai 63 tahun. Dalam 38 tahun kedepan
apa yang akan Anda lakukan? Berfoya-foyakah? Mengerjakan sesuatu yang tidak ada
manfaatnya kah? Atau ingin menjadi bagian dari sejarah umat, dicatat dalam buku
orang-orang yang paling berpengaruh di dunia setelah Nabi? Hanya Anda yang bisa
menjawab.
Lahir,
hidup, lalu mati. Balita, anak-anak, remaja, pemuda, lalu orang tua. Itulah
siklus kehidupan, orang pasti menjalani seperti itu. Kita diberi akal, waktu,
dan energi yang sama, tidak kurang juga tidak lebih dari Allah (kecuali
orang-orang khusus). Idealnya dengan pemberian itu pemanfaatannya pun semua
sama, tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan idealnya orang
hidup harus bermakna, bermafaat bagi orang tua, masyarakat, bangsa dan agama.
Tapi pada kenyataannya bagaimana?
Ada
yang mengidealkan jadi intelek, sastrawan, sejarawan, pengusaha dan semacamnya. Tapi banyak orang tidak
menjalankan dan bertindak seperti apa yang meraka idealkan. Banyak waktu
terbuang percuma, sehingga apa yang diidealkan tidak tercapai.
Mungkin
bagi mereka
yang mengidealkan seperti itu sebetulnya sudah ada niat, tapi dengan berbagai
macam alasan dan segala macam pembenaran, akhirnya tidak tercapai.
Berfoya-foya
kesempatan, sekali lagi berfoya-foya kesempatan–setidanya menurutku–adalah hal
yang mubazir. Waktu yang diberikan oleh Allah tidak dipakai untuk mendekatakan
kepada Allah.
Berkaca
dari hal di atas, mari kita serius memikirkan hidup, hidup ini dari siapa,
untuk siapa, dan hidup mau kemana. Mengapa kita harus serius memikirkan hidup?
karena waktu kita terbatas. Hidup sekali, bermaknalah.
Inspirasi dari ngaji Asbah wa nadhoir, w/ Muhammad Toha. Dan ngaji filsafat w/ Fahruddin Faiz.
Gaten, 05
November 2014 pukul 05:30

EmoticonEmoticon