Perjumpaanku dengan D Zawawi Imron
Supaya
tidak hilang dan terbatasnya memori daya ingat pikiranku untuk menyimpan, ku
paksa untuk menulis ceritaku. Carita ini kisah nyata pengalaman hidupku,
pengalaman pertama berjumpa dengan sastrawan peraih nobel Asia Tenggara, dia
adalah D Zawawi Imron.
Pagi hingga
siang setelah seharian berkluntang-kluntung tidak jelas arah dan tujuan, sore
itu aku mengikuti diskusi dan bincang-bincang dengan D Zawawi Imron dan adik
Cak Nun yang ke 9, Gus Yusron, di Cakruk Pintar kepunyaan Muhis Kalida.
Ketika aku
mengikuti diskusi bersama D Zawawi Imron, banyak ilmu yang aku dapat, berikut
ilmu yang bisa aku tangkap dari pertemuan itu.
1.
Membaca Diri
Yang
dimaksud dengan Membaca diri disini adalah membaca ibu kita. Kita dilahirkan
dari siapa kalau bukan dari ibu kita. Membaca diri/membaca ibu kita itu supaya
kita tau manfaatnya, manfaat kita lahir di dunia ini.
Beliau menyampaikan kata-kata mutiara dari
falsafah Jawa yaitu “iso rumongso bukan rumongso biso”. Maksudnya biso rumongso
adalah bisa merasa aku ini anaknya ibu.
Kurang
lebih apa yang ku tangkap dari pesan pertama itu adalah “Kenalilah dirimu
sendiri sebelum kau kenal, mengenal atau tau orang lain”.
Caranya yaitu baca ibu dan bapakmu. Siapa
mereka, pengorbanan apa yang telah mereka berikan hingga kau seperti ini, dari
sebelum lahir sampai sekarang.
2.
Terimakasih
Pesan
kedua yang disampaikan beliau itu kita harus bersyukur dan berterima kasih,
maksud berterima kasih disini kita harus bersyukur atas apa yang kita peroleh
dari nikmat Allah. Caranya, berterima kasihlah kepada ibu bapak kita, melalui
merekalah Allah memberi nikmat kepada kita.
“Seandainya
kalau ada kata yang lebih bagus dari Terima kasih, itu akan kuucapkan kepadamu.
Wahai ibu”.
3.
Hati yang bersih
Ingin
hidupnya bermanfaat bagi orang lain adalah dengan cara menulis dengan hati yang
bersih. Dengan menulis itu akan bermanfaat untuk menyenangkan orang lain.
4.
Hargai orang yang berjasa pada kita
Ketika
itu beliau mencontohkan petani. Beras yang ada di Supermarket berasal dari
pabrik, beras yang ada di pabrik berasal dari pengepul, beras yang ada di
pengepul berasal dari petani, dan peteni ini masih harus menanam padi, memberi
pupuk, membajak dengan sapi. Nah dari kesemuanya itu asal dari apa yang kita
makan yaitu nasi berasal dari jasa petani, mengapa harus petani? Petani
merupakan pemilik negeri agraria nusantara ini.
Akhirnya dikusi itu ditutup dengan sholawat yang ditulis
oleh beliau dan pembacaan puisi yang terkenal yang ditorehkan beliau yaitu Ibu.
Ya
Nabi salam padaMu
Ya
Rosul salam padaMu
Kekasih
salam padaMu
Sholawat
selalu untukMu

EmoticonEmoticon