Menulis Menghargai
Bakat Diri
Minggu sore
itu, jam menunjukkan hampir pukul lima. Hawa dingin, setelah dua jam berlalu
diguyur hujan, meninggalkan genangan air dan diselingi gemuruh gelegar petir
sisa-sisa hujan selesai.
Setelah
sempat terhenti beberapa waktu, akhirnya untuk kesekian kali aku menulis lagi.
Keinginan untuk menulis lagi lantaran tiga atau empat hari yang lalu aku
membaca sebuah buku yang intinya, “Menulis Menghargai Bakat Diri” buku itu
memotivasi untuk menulis dan bahwasanya:
Dengan Menulis maka Aku Ada,
Dengan Menulis Aku Hidup,
Dengan Menulis Aku Membaca, Dengan Menulis Aku Dibaca,
Dengan Menulis Aku Mengetahui, Dengan Menulis Aku Diketahui,
Dengan Menulis Aku Mengerti, Dengan Menulis Aku Dimengerti,
Dengan Menulis Aku Menghargai, Dengan Menulis Aku Dihargai,
Dengan Menulis Aku Merubah, Dengan Menulis Aku Berubah,
Dengan Menulis Aku Berdakwah, Dengan Menulis Aku Bersaudara,
Dengan Menulis Aku Mengabdi, dan
Dengan Menulis Aku Menjadi Diri Sendiri.
Menulis
yaitu merekam, merekam apa yang terjadi pada kehidupan ini. Adalah tugas
sejarawan untuk merekam hal tersebut. Sejarawan harus tahu dan peka terhadap
apa yang ingin direkam, minimal merekam aktivitas kejadian kehidupan sejarawan
itu sendiri.
Bertapa
pentingnya menulis itu, akan tetapi kenapa aku tidak sadar dari dulu. Aku yakin
bahwa dengan menulis cita-citaku dapat dicapai. Semoga Allah tahu pada apa yang
hambanya ingin dibutuhkan selama ini. Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mendengar.
EmoticonEmoticon