Kira-kira habis Isya, kami bergegas ke Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, untuk mengikuti ritual mubeng benteng yang digelar pada malam satu Muharam. Sampai di lokasi, kami beristirahat sejenak sambil menunggu seorang sesepuh, Mbah Mustofa, bertawasulan dulu.
Selesai tawasulan, perjalanan mubeng benteng dimulai dari masjid. Rutenya melawan putaran jarum jam ke arah barat.
Kata ketua rombongan, "Peserta ritual ini tak boleh pakai alas kaki. Nyeker. Ia pun harus membisu. Tak boleh ada sealun suara dan sepatah kata pun. Hanya boleh zikir dalam hati. Membaca tasbih".
Peserta ritual hanya delapan orang. Soalnya, ritual mubeng benteng kali ini ndak ngikut penenanggalan Jawa, tetapi ngikut penanggalan Islam.
Dari masjid, kami berjalan ke selatan, lalu belok ke kanan. Sampai di Jalan Ngasem, kami berhenti untuk mengumandangkan adzan dan iqomah.
Perjalanan berlanjut ke arah barat hingga mentok. Adzan dikumandangkan lagi di sudut-sudut patok benteng. Lanjut lagi ke selatan. Sampai pojok benteng kulon, diserukan adzan dan iqomah. Ritual diteruskan lagi ke timur sampai pojok benteng wetan kemudian ke utara memasuki alun-alun utara.
Di tengah pohon beringin kembar, adzan dan iqomah dikumandangkan untuk kesekian kali. Dari sana, peserta kembali ke Masjid Gede. Ritual ditutup dengan adzan dan iqomah terakhir. Rampung.








EmoticonEmoticon