WIRID MENULIS, WIRID PRODUKTIF
Pagi ini, 22 Januari 2017, saya menemukan makna wirid yang baru. Pada umumnya, wirid dimaknai sebagai aktivitas yang dilakukan setiap hari secara terus-menerus, yang sering dilakukan setelah salat, pada waktu pagi, siang, dan malam. Namun, ternyata ada makna wirid yang lain.
Makna baru wirid tersebut saya dapat dari status facebook Prof. Machasin, dosen saya di Jurusan Sejarah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Prof. Machasin menerangkan, makna wirid itu diperolehnya ketika jalan-jalan bersama seorang profesor terkemuka asal India, Asghar Ali Engineer, ke pertunjukan Ramayana di Prambanan.
Karena berasal dari India, profesor itu paham isi cerita Ramayana. Dia pun dapat mengikuti alur cerita Ramayana tanpa hambatan. Begitulah pada mulanya. Sayangnya, di tengah-tengah pertunjukan, profesor penganut Syiah tersebut mengalami sakit perut. Dia harus mengundurkan diri dari menonton pertunjukan. Oleh Prof. Machasin, dia dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan bus.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Prof. Asghar bercerita tentang bagaimana dia dapat menulis sedemikan banyaknya. Sebagaimana yang tertulis dalam status facebook Prof. Machasin, Prof. Asghar mengungkapkan:
“Wirid, Machasin,” katanya. “Saya melaksanakan wirid setiap pagi dan sore.”
“Apa wirid Anda?” tanyaku sambil membayangkan akan keluar lafaz-lafaz dari al-Quran atau hadis atau doa-doa dari tokoh ulama.
“Wiridku adalah menulis. Setiap hari aku mengamati kehidupan. Minggu ini yang kuamati masalah keagamaan, lalu minggu depan masalah sosial. Demikian terus-menerus. Lalu, aku menuangkan pikiranku untuk mengomentari masalah-masalah itu setiap malam dan pagi. Biasanya, setiap Jumat pagi saya terbitkan hasil wiridku selama seminggu.”
Ooooh. Aku melongo. Ternyata wiridnya bukan membaca berulang-ulang kalimah-kalimah tayyibah tetapi menulis yang dilakukan secara terus-menerus. Dalam pengertian dasarnya, wirid adalah kegiatan yang terus diulang dalam bagian hari yang sama: sebelum subuh, sebelum matahari terbit, sebelum matahari tenggelam, setelah salat fardu, dan seterusnya.
Wirid Pak Ali ini benar-benar wirid produktif.
Dari situ saya mengambil pelajaran bahwa sudah saatnya saya mengamalkan wirid tersebut, yaitu wirid menulis. Tiap hari menulis. Menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Sama seperti Prof. Asghar. Menulis hal yang diamati dalam kehidupan sehari-hari, entah sosial, politik, agama, atau hal lain. Lalu, menuliskannya pada waktu malam sampai pagi tiba.
Dalam penutup status facebook tersebut, Prof. Machasin mengutip kata-kata mutiara ulama fiqh, Imam Syafii, yang tertulis dalam kitab (kecil) al-Durar al-Bahiyyah, kitab Arab pertama yang Prof. Machasin pelajari di musala bersama ayahnya dulu. Kutipan itu berbunyi, “Aku lebih suka kau pelajari satu bab ilmu daripada salat sunat seribu rakaat”.
Wiridku
Manulis setiap hari
Tak lupa membaca tiap hari juga
Meminta penilaian, saran, kritik
Mendiskusikan, belajar bertutur bijak
Tidak menggurui, tidak menunjukan keriyaan
Santun
Sumber: Status facebook Prof. Muhammad Machasin https://web.facebook.com/mmachasin?fref=ts

EmoticonEmoticon